
Rd. Etje Madjid Natawiredja, atau Ece Majid Natawireja, lahir di Cianjur pada tahun 1853 adalah putra dari Rd. H. Abdul Palil, yang dikenal juga sebagai Rd. Natawiredja. Ayahnya, seorang ahli mamaos, memiliki hubungan dekat dengan Dalem Pancaniti (R.A.A. Kusumaningrat) dan merupakan salah satu seniman pendopo yang turut menciptakan seni mamaos bersama-sama dengan Dalem tersebut.
Sejak usia muda, Rd. Etje Madjid telah mempelajari berbagai bentuk kesenian Sunda, seperti seni suara, tari, sastra, karawitan, musik, dan lukis. Bakat seni yang dimilikinya mendapat dukungan penuh dari keluarganya, termasuk dari Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradiredja II. Khusus untuk seni mamaos, ia berguru kepada saudara Dalem Pancaniti, yaitu Rd. Adinegara, Rd. Habib, dan Rd. H. Suriakusumah, yang semuanya adalah juru mamaos pada masa kepemimpinan Dalem Pancaniti.
Keahliannya dalam membawakan tembang memberinya posisi istimewa di dunia seni mamaos. Hal ini terlihat dari sikap Bupati R.A.A. Prawiradiredja II yang mengizinkan Rd. Etje Madjid untuk memperkenalkan seni mamaos ke luar lingkungan pendopo. Meskipun seni ini awalnya diciptakan dan dinikmati oleh kalangan menak Cianjur, langkah tersebut berhasil memperluas jangkauan seni mamaos ke luar Cianjur, sehingga dikenal sebagai Tembang Sunda Cianjuran.
Rd. Etje Madjid juga dikenal sebagai salah satu seniman yang banyak melahirkan Tembang Sunda Cianjuran, termasuk dedegungan dan rarancagan, di samping lagu-lagu mamaos yang diciptakan oleh Dalem Pancaniti. Hingga kini, lagu-lagu ciptaannya masih sering dilantunkan oleh para juru mamaos dan terus dikenang sebagai karya legendaris.
Penyebaran seni mamaos terus dilakukan oleh Rd. Etje Madjid, meskipun kedudukan bupati telah beralih ke tangan R.A.A. Wiranatakusumah atau Dalem Haji. Dengan perpindahan Dalem Haji ke Kabupaten Bandung, kesempatan Rd. Etje Madjid untuk menyebarluaskan seni mamaos ke luar Cianjur semakin terbuka. Bersama-sama dengan Dalem Haji, Rd. Etje Madjid berhasil memperkenalkan seni mamaos ke masyarakat Bandung dan wilayah Priangan.
Selain berjasa dalam penyebaran seni mamaos, Rd. Etje Madjid juga berperan dalam menciptakan rumpaka atau dangding. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Guguritan Laut Kidul,” sebuah rumpaka favorit yang dilantunkan oleh para juru mamaos. Karya ini ditulis dalam pupuh Dangdanggula dan terdiri dari 23 pada, bahkan pernah dimuat dalam Volksalmanak Soenda pada tahun 1920.
Setelah wafat, ia dimakamkan di kompleks pemakaman Pasar Baru, kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur. Sebagai penghargaan bahwa beliau merupakan tokoh penting pengembang mamaos Cianjuran, maka makamnya dibuatkan bentuk kacapi indung atau kacapi parahu, sebagai simbol yang identik dengan seni mamaos.

Peminat seni dan tradisi Sunda, peneliti nakah Sunda kuno. Koordinator bidang dokumentasi dan publikasi Perceka Art Centre.