Januari 19, 2022

Tentang Percéka

Cianjur pada masa lalu pernah menjadi kiblat budaya dan kesenian Sunda di Jawa Barat, namun pada pertengahan tahun 1980-an keadaannya seakan menjadi sebuah kota pusaka yang kehilangan tuah. Perkembangan Cianjur tampak tertinggal dalam berbagai hal antara lain bidang sosial, ekonomi, hukum, politik dan seni. Sekalipun jika dibandingkan dengan kota pemekarannya: Sukabumi (secara historis). Mungkin hanya dalam sisi filsafat dan keagamaannya saja yang bertahan. Itu pun ada kalanya tampak berlebihan dan kurang proporsional sehingga kurang begitu mampu menjadi filter arus modernisasi yang sangat deras. Apalagi, letak geografis kota Cianjur diapit oleh dua kota besar, Bandung dan Jakarta, yang masing-masing membawa pengaruh budaya metropolis yang kuat.

Nilai-nilai kearifan lokal yang dahulu pernah dijunjung tinggi di Cianjur dan membesarkan namanya, kini seakan terlupakan. Pola hidup masyarakat (terutama kawula mudanya) cenderung mengikuti kota besar, yang sebenarnya kurang sepadan dengan kultur dan kondisi kota Cianjur. Salah satu dampaknya yaitu semakin terkikisnya kepedulian terhadap seni tradisi yang bernapaskan religi warisan dari para pendiri Cianjur terdahulu. Sungguh memprihatinkan.

Melihat kenyataan tersebut, Tatang Setiadi merasa harus bertindak cepat dan berupaya untuk mengembalikan rasa memiliki dan menghargai yang semakin ditinggalkan masyarakat. Salah satu upayanya yaitu dengan masuk ke lingkungan instansi pemerintahan maupun sekolah dalam program sosialisasi dan pembinaan seni tradisi. Hasilnya ternyata memberikan secercah harapan.

Pada tahun 1987 mula-mula Tatang Setiadi mendirikan sebuah perkumpulan seni tradisi dengan nama “Pasundan Perceka” yang kegiatannya berpusat di kompleks SMP Pasundan Cianjur. Sejak tahun 1990 pusat kegiatan berpindah lokasi, maka perkumpulan itu berubah nama dengan kata “Percéka” tanpa diawali dengan “Pasundan”. Pada tahun 1990 pula sanggar seni tradisi Sunda dengan nama “Percéka” resmi didirikan melalui SK Depdikbud Kabupaten Cianjur. “Percéka” memiliki dua pengertian, yang pertama dalam pengertian bahasa Sunda berarti ‘terampil’ atau ‘serba bisa’. Sementara arti kedua berupa singkatan dari ‘Persatuan Cendekiawan Karawitan’.

Program Percéka yaitu melestarikan, membina dan mengembangkan seni dan budaya Sunda. Sasarannya yaitu anak-anak, para kawula muda dan guru-guru kesenian si-Kabupaten Cianjur. Dalam perjalanannya, Percéka terus berkembang walaupun sering kali terseok-seok akibat kurangnya sarana penunjang berupa tempat peminaan dan kesekretariatan. Dengan demikian, acap kali terpaksa berpindah-pindah tempat sesuai lokasi kontrakan. Namun seiring berjalannya waktu, prestasi demi prestasi dapat diraih oleh Percéka sehingga kepercayaan masyarakat semakin bertambah.

Dalam perjalannya, Percéka telah dipercaya untuk menggarap berbagai bidang seni bekerja sama dengan beberapa lembaga pemerintah maupun swasta, serta diundang untuk mengisi berbagai agenda lokal, nasional dan internasional. Seiring dengan dibentuknya Dewan Kesenian Cianjur, Percéka pun sempat dipercaya oleh komite Tari Dewan Kesenian Cianjur sebagai pelaksana teknis pelatihan tari di Kabupaten Cianjur selama beberapa periode.

Berbagai bidang seni digarap oleh Percéka dan terus menghasilkan karya-karya baru. Selain itu Percéka terus bertekad untuk mencetak kader calon pemimpin bangsa yang mengenal jati dirinya, bangga terhadap kebudayaan pribadinya, serta mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Selatin itu, Percéka terus berupaya memperluas jaringan untuk lebih mengenal dan dikenal satu sama lain. Hal ini dilakukan terutama untuk menambah pengalaman anak didiknya tentang nilai silaturahmi dan kebersamaan melalui media seni tradisi.

Pada tahun 2006 diadakan kegiatan bertajuk “Papajar Budaya ke-1” untuk membahas aspek legal dan program kerja yang lebih matang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bapak Suryayuga (Dirjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata), Dadang Sufianto (Wakil Bupati Cianjur), beserta para seniman dan budayawan Sunda terkemuka Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut ditetapkan status Perceka Art Centre menjadi lembaga resmi berbadan hukum. Pengukuhan ditandai dengan penandatanganan prasasti.