Tentang Percéka

Pertengahan tahun ’80-an, Cianjur yang dahulu menjadi kiblat budaya dan kesenian Sunda di Jawa Barat kala itu keadaannya seakan menjadi sebuah kota pusaka yang kehilangan tuah. Berbagai aspek tertinggal, sekalipun jika dibandingkan dengan kota pemekarannya (Sukabumi) baik dalam bidang sosial, ekonomi, hukum, politik, dan seni. Hanya dalam sisi filsafat dan agama saja yang bertahan, itupun kadangkala berlebihan, tidak proporsional sehingga tak mampu dijadikan filter arus modernisasi yang kebablasan. Hal ini diperparah dengan letak geografis kota Cianjur yang diapit oleh dua kota besar yaitu Bandung dan Jakarta.

Kota Cianjur yang dahulu menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang membesarkan namanya kini terlupakan, pola hidup masyarakat terutama kawula mudanya cenderung borpola hidup kota besar yang sebenarnya tidak sepadan dengan kultur dan kondisi masyarakat setempat. Salah satu dampaknya yaitu sudah tidak peduli lagi pada seni tradisi yang bernafaskan religi warisan dari para pendiri Cianjur dahulu. Sungguh memprihatinkan.

Melihat kenyataan tersebut di atas, Tatang Setiadi secara pribadi merasa harus cepat berbuat dan berupaya untuk mengembalikan rasa memiliki dan menghargai nilai-nilai tradisi yang ditinggalkan dan berupaya masuk ke lingkungan instansi dan sekolah dalam program sosialisasi dan pembinaan seni tradisi. Hasilnya cukup memberi harapan, sehingga pada tahun 1990 dibentuklah sanggar seni tradisi yang bernama “Percéka” yang dalam pengertian bahasa Sunda adalah terampil atau serba bisa. Sementara dalam pengertian singkatan (akronim), “Percéka” berarti “Persatuan Cendikiawan Karawitan”.

Adapun programnya yaitu melestarikan, membina dan mengembangkan seni dan budaya Sunda yang sasarannya adalah anak-anak, para kawula muda dan para guru kesenian se-kabupaten Cianjur. Percéka terus berkembang walau terseok-seok karena kurangnya penunjang terutama sarana dan kesekretariatan yang acap kali harus berpindah tempat sesuai lokasi kontrakan, tetapi karena prestasi demi prestasi dapat diraihnya, kepercayaan masyarakatpun makin bertambah.

“Perceka” mempunyai nilai historis dan perjalanan panjang untuk perkembangan kesenian di Cianjur. Sebelum turun SK DEPDIKBUD tahun 1990, didirikan dan berkiprah sejak tahun 1987 dengan nama “Pasundan Perceka” yang pusat kegiatannya di kompleks SMP Pasundan Cianjur. Dari situ sudah banyak mendirikan kelompok-kelompok kesenian di kabupaten Cianjur, maka sebagian besar kelompok kesenian yang ada di Cianjur embrionya dari Perceka. Sejak tahun 1994 pusat kegiatan berpindah lokasi maka berubah nama dengan kata “Perceka” tanpa diawali dengan “Pasundan”, Ternyata berpindahnya lokasi berhikmah pada adanya dua wadah yaitu Pasundan dan Perceka.

Dalam perjalannya, Percéka telah dipercaya untuk menggarap berbagai bidang seni bekerjasama dengan beberapa lembaga terkait (pemerintah/swasta) serta diundang untuk mengisi berbagai event lokal, nasional dan internasional. Seiring dengan dibentuknya Dewan Kesenian Cianjur, Percékapun dipercaya oleh komite Tari Dewan Kesenian Cianjur sebagai pelaksana teknis pelatihan tari di Kabupaten Cianjur dan terus berlanjut hingga saat ini.

Berbagai bidang seni digarap oleh Percéka dan terus menghasilkan karya-karya baru serta mencetak kader calon pemimpin bangsa yang mengenal akan jati dirinya, bangga terhadap kebudayaan pribadi serta mensyukuri anugerah yang telah diberikan oleh yang Maha Kuasa.

Selain terus berkarya dan membina, Percéka berupaya memperluas jaringan untuk lebih mengenal dan dikenal satu sama lain tradisinya terutama untuk menambah pengalaman anak didiknya tentang nilai silaturahmi melalui media seni tradisi.

Pada tahun 2006 diadakan kegiatan Papajar Budaya ke-1 untuk membahas aspek legal dan program kerja Perceka Art Centre. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bapak Suryayuga (kementrian Budpar), Dadang Sufianto (wakil bupati Cianjur). Dalam kesempatan tersebut ditetapkan untuk mengukuhkan status Perceka Art Centre menjadi lembaga resmi berbadan hukum. Pengukuhan ditandai dengan penandatanganan prasasti.