Perceka Warnai Silang Budaya Celaket

MALANG – Perceka Art Centre siap tampil dalam International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) 2016. Persatuan Cendekiawan Karawitan asal Cianjur ini bakal menghangatkan suasana persilangan budaya nusantara di Celaket pada acara yang digelar pada 25-29 Oktober mendatang.

Dengan mengandalkan seni karawitan, tembang Cianjuran, Kacapi dan tari Sunda klasik, sudah dipersiapkan oleh Ketua Perceka Art Centre, Tatang Setiadi.

“Kami sangat apresiasi dengan kehadiran ICCCF yang mewadahi persilangan budaya nusantara bahkan internasional. Kami pun siap memberikan yang terbaik, sehingga suasana pertukara budaya yang hangat di Malang, Celaket bisa menyatukan kita sebagai pewaris budaya bangsa,” kata Tatang, kemarin.

Perceka Art Centre, sudah dikenal sebagai sanggar seni tradisi yang mengakar di Cianjur. Mulai tahun 1990, sanggar seni tradisi ini sudah berjalan dan melestarikan warisan budaya. Selain membangun pondasi pelestarian seni budaya Sunda, Perceka sangat concern dengan pewarisan budaya lokal kepada anak muda, remaja dan guru kesenian se-kabupaten Cianjur.

Tak heran, Tatang mengaku sangat senang dengan kehadiran ICCCF yang menjadi tempat bertemunya para seniman tradisi dan budaya seluruh Indonesia. “Karena ini sesuai dengan misi kami, untuk memperluas jaringan, mengenal dan dikenal satu sama lain, serta menanamkan nilai silaturahmi melalui media seni tradisi,” kata Tatang.

Perceka Art Centre, sudah membawa budaya seni tradisional Cianjur ke level internasional. Seniman Perceka, telah jadi delegasi di event dunia, mulai dari Cultural Olympic Yunani, Enchanting Indonesia di Singapura, Spring Friendship Art Festival di Pyongyang, Korea Utara hingga People to People Exchange Programme di Laos.

Penanggung jawab ICCCF 2016, Hanan A Jalil menegaskan, seni budaya Cianjur dan Sunda yang diwakili Perceka Art Centre, merupakan jawaban bahwa budaya bisa menyatukan perbedaan “Perceka yang dipimpin kang Tatang tentu sudah siap all out untuk menyegarkan silang budaya di ICCCF,” ujar Hanan.

Perceka Art Centre, mewarnai berbagai sajian seni budaya lainnya di ICCCF 2016. Mulai dari ludruk ger-geran yang didalangi oleh Suwijo Tedjo serta dimainkan oleh para tokoh seperti Gus Ipul hingga Rendra Kresna, hingga Ndadi Bareng yang menampilkan 200 seniman jaranan Malang Raya.

Gagah Soeryo Pamoekti, Ketua Panitia ICCCF 2016, menyebut beberapa panggung hiburan yang disiapkan di hari pertama pembukaan, menampilkan Kelompok Pengamen Jalanan Bulungan Jakarta, serta komunitas Koesplus Bersaudara Malang Raya.(fin/aim)

sumber: http://malangpost.net/news/kota-malang/perceka-warnai-silang-budaya-celaket

Melihat Lebih Dekat Aktivitas Perceka Art Centre Ajarkan Seni dan Budaya hingga Filosofi Kehidupan

dok. Radar Cianjur

HENDAK membuktikan keberadaan sanggar seni di kancah nasional hingga internasional yang telah dikelola sejak puluhan tahun yang lalu, Tatang Setiadi (55) sang budayawan sekaligus Ketua Sanggar Perceka Art Centre Cianjur dengan penuh pengabdian mencetak generasi penerus yang mencintai seni dan budaya nenek moyangnya.

DI tengah hiruk pikuk aktivitas pusat kota Cianjur, berdiri sebuah sanggar seni yang sudah puluhan tahun secara konsisten mencetak seniman dan budayawan asal Cianjur. Tak sedikit dari mereka kini yang sudah mampu berkiprah, baik skala lokal, regional, nasional, hingga internasional. Sanggar tersebut bernama Perceka Art Centre yang berlokasi di Jalan Suroso nomor 58, Kelurahan Bojongherang,  Kecamatan Cianjur.

Konsistensi Perceka Art Centre yang diketuai Tatang Setiadi (55) bahkan sudah melanglang buana hingga kancah mancanegara. Secara mandiri, selama puluhan tahun, Tatang terus-menerus mengajarkan kepada para anak didiknya tentang pentingnya memahami dan mempelajari seni, budaya berikut nilai historis dan filosofis yang terkandung didalamnya.

Saat disambangi Radar Cianjur, nampak lima orang siswi tengah serius mempelajari tentang alat musik kacapi sunda. Mereka adalah Elisa Nayasari Haryono (15) asal Jangari, Lutfi Alfiyani (15) asal Jebrod, Hanifa Yusmi Zahrah (15) asal Gadung Permai, Siti Salsa Dedila Husna (15) asal Lembuir Tengah dan Afifah Inayah (15) asal Panembong.

Mereka diketahui merupakan siswi kelas IX SMPN I Cianjur yang tertarik untuk mempelajari seni sunda, khususnya seni musik kacapi. Meski awalnya mereka mendapat dorongan dari guru mereka, namun lama-kelamaan kian tertarik mendalami tradisi khas nusantara tersebut. “Kesannya menyenangkan, unik dan membuat rileks. Awalnya memang karena disuruh oleh guru, tapi ternyata semakin menarik untuk dipelajari,” ungkap salah seorang siswi, Elisa kepada Radar Cianjur.

Usai latihan memetik senar kacapi, para siswi tersebut dibberi beberapa kisah tentang hikayat masa lampau yang sarat makna filosofis. Metode yang ia terapkan terbilang diluar kebiasaan. Para anak didiknya itu dibiarkan duduk bersila dengan posisi tegap seraya membuat mereka rileks. Sesekali mengatur pernafasan.

Kepada wartawan koran ini, Tatang Setiadi menuturkan, masing-masing bagian tubuh seseorang memliliki kehendak. Semuanya berjalan dengan keselarasan antar anggota tubuh hingga mampu berfungsi sebagaimana mestinya. “Otak yang memiliki skenario, hati adalah sutradaranya, serta anggota tubuh yang lain merupakan pemerannya. Semuanya memiliki kehendak sendiri. Disitulah tercipta olah rasa yang melahirkan berbagai kesenian,” tutur Tatang seraya tersenyum.

Karenanya, ia tak pernah lelah untuk mentransformasikan ilmunya kepada para generasi penerus. Ia juga kerap menanamkan tentang kesetaraan gender antara kaum pria dan kaum wanita. Menurutnya, tradisi seks bebas dan pernikahan dini bukan merupakan warisan budaya nenek moyang, melainkan warisan zaman penjajahan. “Kenali diri, maka kita akan mengenal Tuhan. Lebih jauh, kita juga akan mampu mengenal sejarah, tradisi, nilai-nilai dan budaya bangsa kita sendiri,” tutupnya berpesan. (*)

Sumber: Radar Cianjur pada Kamis, 17 Maret 2016