Juni 4, 2020

Regenerasi Pemain Kacapi di Cianjur

Sekitar 20 orang anak belajar memainkan kacapi dengan jadwal yang telah ditentukan dan bobot materi pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak. Anak-anak yang mengikuti pelatihan kacapi ini dari mulai usia 8 tahun hingga 12 tahun dari jenjang pendidikan TK-SD-SMP. Namun demikian Sanggar Perceka sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar berkesenian tanpa melihat status sosial atau jenjang pendidikan apapun, asalkan ada kemauan untuk belajar.

Anak-anak berlatih kacapi


Suasana proses pelatihan dibuat seakrab mungkin dengan peserta belajar sehingga penyampaian materi praktisi dapat tersampaikan dengan baik. Selain dari materi pembelajaran kacapi secara praktisi, anak-anak juga diajarkan berbagai sikap berprilaku, dan berbahasa yang santun sehingga dapat memunculkan rasa saling menghargai dan mengormati antar sesamanya. Serius tapi santai, itulah kondisi yang diciptakan di saat proses latihan. Maksudnya, serius dalam belajar namun tidak menekankan anak untuk bisa akibat terpaksa. Diusakan agar anak itu bisa bermain kacapi karena suka bermain kacapi, sehingga pendekatan pertama yang dilakukan di Sanggar Perceka adalah mengenalkan permainan kacapi agar anak menyukai kacapi (juga seni lainnya).

Selain bagi anak-anak, pelatihan kacapi di Sanggar Perceka juga diperuntukan bagi remaja. Hal ini dimaksudkan selain bertujuan untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tradisi Sunda, juga sebagai alternatif aktifitas positif para remaja di Cianjur.

Remaja berlatih kacapi

Dibuktikan
Pada tahun 2007 lalu SMKI Bandung mengadakan sebuah Pasanggiri (lomba) rampak kacapi se-Jabar-Banten-DKI tingkat umum. Dalam kesempatan itu Perceka mengirimkan duat tim kacapi anak binaannya (kelompok remaja dan anak-anak) untuk mengikuti lomba dengan tujuan untuk memotivasi anak-anak agar berani tampil di depan banyak orang.

Ketika tiba saat pasanggiri, ternyata peserta yang mengikuti pasanggiri ini sangat banyak dan dirasa cukup berpengalaman dalam permainan kacapi di daerahnya sedangkan anak-anak binaan Perceka yang ikut pasanggiri saat itu baru berusia belasan (SMP). Namun demikian, karena tujuan awal keberangkatan tim kacapi anak-anak ini untuk menambah motivasi anak-anak dalam bermain kacapi, anak-anak pun dikondisikan agar tidak terbebani dan bermain apa adanya.

Dalam pengumuman penyisihan, tanpa disangka-sangka ternyata kedua kelompok kacapi dari Perceka lolos ke putaran 6 besar final. Saat hasil final diumumkan hasilnya juga cukup mencengangkan. Kelompok anak-anak meraih posisi harapan 1 sedangkan kelompok remaja sebagai juara 3 se-Jabar-Banten-DKI.

Setelah satu hari satu malam bertanding, muncul sebagai juara umum tim GRPS Enterprise dari Kab. Bandung, disusul Sanggita (Kota Bandung) sebagai juara II, juara III Perceka (Kab. Cianjur), harapan I SMPN 4 Cianjur, harapan II Gentra Lumayung (Kota Bandung), dan harapan III Sweet Gapa (Kota Bogor).(Sumber:Galamedia)

Dari pasanggiri ini mungkin dapat diambil hikmah dari kegiatan rutin proses pembinaan kacapi di Sangar Perceka. Momen saat itu setidaknya menjadi sebuah pembuktian bahwa proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan akan memberikan hasil yang maksimal. Memang tujuan akhir dari pelatihan dan pembinaan seni tradisi itu bukan hanya untuk ditampilkan dan dilombakan saja, namun lebih daripada itu bagaimana menumbukan sikap positif di dalam diri pembelajarnya.

Tim Kacapi remaja “Seuweu Perceka”

Selain dalam kegiatan Pasanggiri di daerah, binaan Perceka juga telah berprestasi di tingkat nasional dan internasional.

Regenerasi

Cianjur pada masa lalu merupakan kota sentral perkembangan kesenian Sunda dalam bidang seni kacapi, bahkan hingga sekarang cukup dikenal dengan seni tradisi kacapi suling dan mamaos Cianjurannya. Namun demikian dari generasi pencetus gagasan seni kacapi dan tembang Cianjuran hingga masa kini dapat dikatakan bahwa proses regenerasi untuk meneruskan seni tradisi tersebut tidak ada (setidaknya yang berkelanjutan/berkesinambungan) sehingga bila tidak ada suatu langkah kebudayaan untuk mengatasi hal itu, dikhawatirkan akan terjadi degradasi tradisi akibat terputusnya estafet tradisi di Cianjur.
Perceka menjawab tatangan itu!

Aktifitas pembinaan seni tradisi Sunda di Cianjur dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan. Sanggar perceka tidak hanya memberikan materi praktisi kepada warga belajarnya namun juga turut berperan serta dalam perkembangan mental dan sikap dalam menunggangi keadaan masa sekarang ini. Ini adalah sebuah upaya nyata dalam dinamika kebudayan Sunda kini.

Semoga apa yang sedikit dilakukan oleh Perceka dapat memberikan sebuah dorongan baru untuk kemajuan tunas-tunas bangsa melalui media seni tradisi sehingga kelak mereka bisa menjadi kebanggaan bangsanya.

Tari Pinasti: "ini kupersembahkan untuk ibu pertiwi tercinta" (Peraih Tropi Perak Spring Friendship Art Fetsival Korea tahun 2004 )

Lihat artikel tentang binaan kacapi di Sanggar Perceka >>

Pasanggiri Rampak Kacapi 2007
Tari Pinasti mendulang prestasi di negeri orang
Petik kecapi ke berbagai negeri

2 thoughts on “Regenerasi Pemain Kacapi di Cianjur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *