September 25, 2020

Reinventing Sunda, Diselenggarakan Di Bogor

Bandung, JM– “Reinventing Sunda in Strengthening The National Culture and Promoting Cultural Diversity.” Acara yang digelar oleh Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat didukung oleh Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO akan berlangsung dari tanggal 25 sampai dengan 27 Oktober itu akan berlangsung di Hotel Salak, Kota Bogor dengan peninjauan lapangan ke Kawasan Percandian Situs Batujaya, Kabupaten Karawang. Seminar akan menghadirkan 14 orang pembicara, yaitu Prof.DR.H. Arief Rachman, M.Pd, Prof.DR. Edi Sedyawati, Dr. Junus Satrio Atmodjo, M.Hum, Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Dede Yusuf, HR. Hidayat Suryalaga, DR. Hasan Djafar, Qkki S Jusuf, Prof.DR. Adjat Sudradjat, Dr. Agus Aris Munandar, Prof.Dr.R.P. Koesoemadinata, Prof.Dr. Stephen Oppenheimer, Dr. Frank Joseph Hoff, Prof.Dr.HM. Ahman Sya dan Dr.Radhar Panca Dahana.

Seminar akan diikuti kurang lebih 450 orang peserta, terdiri dari instansi Pemeritah Daerah di seluruh Jawa Barat, para peneliti dan perguruan tinggi dan masyarakat umum, budayawan dan seniman, masyarakat pencinta/pemerhati/pelaku budaya umumnya dan budaya sunda khususnya, LSM, stakeholders, sejarawan dan wakil dari berbagai media cetak dan elektronik.

Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Ir.H. Herdiwan, MM dalam jumpa pers di Gedung Disparbud Jabar (07/09), menjelaskan, maksud digelarnya kegiatan tersebut adalah nyukcruk galur atau pencarian kembali (reinventing) nilai-nilai positif yang berkembang dari hubungan alam, lingkungan, filsafat dan kebudayaan lokal masyarakat Sunda masa lalu yang diproyeksikan pada masa sekarang guna penguatan dan peningkatan budaya lokal dan nasional untuk berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, kemajuan kesejehtaraan masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global.

Menurut Herdiwan, Kata Sunda mulai digunakan oleh para raja Purnawarman pada tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang didirikannya. Dalam naskah historis penyebutan Sunda merujuk pada ibukota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura. Kerajaan Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara sebagaimana dibuktikan dalam prasasti dan berita naskah kuno terkait.

“Letak tepat kota Sundapura masih menjadi penelitian para ahli, apakah di Jakarta, Bogor, Bekasi atau Karawang sekarang. Namun demikian, di Karawang terdapat situs percandian Batujaya yang menunjukkan tumbuh kembangnya kebudayaan sejak abad 2 Masehi hingga abad 12 Masehi yang mendukung kehadiran Kerajaan Tarumanagara yang terkenal dengan kemakmurannya,” katanya. Tandie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *