Juni 6, 2020

Kemenbudpar Gelar ‘Art Summit Indonesia 2010′

JAKARTA – Kementerian Budaya dan Pariwisata kembali menggelar Art Summit Indonesia 2010. Ajang festival budaya ini diselenggarakan tiga tahun sekali.

Rencananya Art Summit Indonesia 2010 digelar di Jakarta pada 4-24 Oktober 2010. Peserta datang dari berbagai negara, termasuk tuan rumah Indonesia.

Grup musik, teater dan tari kontemporer kondang dengan reputasi nasional hingga internasional akan mengisi acara yang untuk keenam kalinya digelar ini. Mereka adalah penari Korea Hyun Ok Park, teater Jerman Milan Sladek, dancer Belanda Leina Roebana, musisi Amerika Serikat Tale Ensemble, dan musisi Austria Pierrot Lunaire.

Sedangkan Indonesia diwakili wayang suket Slamet Gundono, Teater Satu Lampung, Gamelan Pendro dan Cundami Bali, Blacius Subono, Jombang Dance Company, dan tari Sekar Kliwon Nanu Munajar.

“Mengangkat tema Contemporary Arts and the Demand of Cultural Industries, Art Summit Indonesia 2010 dirancang dengan menggabungkan antara perspektif kesenian, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang terus berkembang,” ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik dalam press release yang diterima Okezone, Minggu (26/9/2010).

Jero Wacik menambahkan, keberhasilan Art Summit sejak 1995, menjadi bukti kemampuan dan kesungguhan para seniman, budayawan dari dalam dan luar negeri yang aktif mengurus, dan terlibat mengembangkan budaya dan kesenian.

“Kami sangat menghargai kepedulian, sumbangan, hingga pengorbanan para seniman, budayawan, hingga pengamat dan media yang telah memperjuangkan kemajuan dan nama baik lndonesia di forum internasional, terutama melalui kegiatan Art Summit lndonesia selama ini,” imbuhnya.

Art Summit Indonesia merupakan salah satu ajang yang diperhitungkan di dunia karena menampilkan berbagai materi yang disuguhkan dan produk-produk pemikiran yang terkini.

“Materi-materi pertunjukan Art Summit ini tidak hanya penting bagi kalangan pekerja seni pertunjukan saja, tapi juga dapat memberi inspirasi dan penyegaran bagi siapapun. Termasuk bagi birokrat, politisi, ilmuwan, pengusaha, hingga para aktivis kemanusiaan yang berbasis kebudayaan,” pungkasnya.(nov)

okezone.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *