Juni 6, 2020

Nini Anteh Turun ke Bumi

maaf baru dimuat.
=========================
Wed Mar 21, 2007 5:59 am

KARENA sudah tak dikenal lagi di tatar Sunda, Nini Anteh yang
bersemayam di bulan, ditugaskan dewata turun ke bumi, mengunjungi
anak-anak Sunda yang sudah tidak mengenalnya lagi. Akibat Nini Anteh
sudah dilupakan generasi muda Ki Sunda, alam marcapada (dunia) jadi
gelap gulita dilanda gerhana. Agar dunia terang kembali, anak-anak Ki
Sunda harus kembali mengenal hikayat “Nini Anteh” dan harus
menyanyikan lagu “Bulan Tok” berkali-kali di hadapan Nini Anteh.

“Drama musikal Sunda ‘Nini Anteh’ ini, memang ditulis berdasarkan
keprihatinan terhadap punahnya beberapa dongeng khas Sunda. Namun,
lebih dari itu sebagai gambaran bahwa tidak sedikit generasi muda
Sunda yang pareumeun obor karena melupakan akar budaya Sunda. Hal
tersebut digambarkan dengan terjadinya gerhana yang menjadikan dunia
gelap gulita,” ungkap Tatang Setiadi, seniman Sunda selaku penulis dan
sutradara drama musikal “Nini Anteh”, saat ditemui seusai pertunjukan
di Gedung Dewan Kesenian Cianjur (DKC), beberapa waktu lalu.

Tatang yang kelahiran Bandung, 24 Desember 1957 dan kerap mendapat
undangan mementaskan seni Sunda di beberapa negara itu, mengibaratkan,
di negara lain seperti Inggris, anak-anak kecilnya sudah fasih
berbahasa Inggris sejak kecil. Demikian juga di Jepang, anak-anak
Jepang sudah dikenalkan kepada huruf kanji sejak kecil dan mereka
begitu bangga dengan huruf dan angka khas Jepang itu. “Sayang, di
kita, keluarga Sunda rata-rata sudah tidak mengajarkan bahasa Sunda
kepada anaknya. Ironisnya, gejala seperti ini sudah merambah ke
pedesaan,” papar ayah tiga anak ini.

Tatang Setiadi yang pada tahun 2004 menjadi salah seorang duta budaya
Indonesia ke Yunani, dalam setiap pergelaran dan latihan di sanggarnya
sengaja membidik anak-anak usia SD, SMP, dan SMA sebagai murid dan
nayaganya. “Mereka belajar beragam seni Sunda di sanggar saya secara
cuma-cuma, tak apa-apa. Di zaman seperti ini, ku daekna generasi muda
belajar seni Sunda, sudah bagus,” ujar pencipta puluhan tembang
Cianjuran ini.

Menurut Tatang, kepunahan terus melanda beberapa kesenian sunda akibat
kehilangan penonton dan tidak adanya regenerasi. “Sebenarnya,
pemerintah sudah cukup akomodatif dengan menggulirkan beberapa perda
pelestarian budaya. Namun, urang Sunda pituin umumnya tidak begitu
peduli terhadap pelestarian,” ungkap pencipta dongeng “Silsilah Hayam
Pelung” itu. (Luki Muharam/”Galura”)***

sumber : http://groups.yahoo.com/group/smandatas/message/4465

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *