Juni 6, 2020

Menuju Olimpiade Kebudayaan Yunani 2004

Kata-kata kunci dalam dialog Olimpiade Kebudayaan yang diselenggarakan Agustus 2004 mendatang di Athena, Yunani, adalah logos, cronos dan locus, kurang lebih berarti dunia, waktu dan tempat. Suatu kebetulan jika kata-kata itu sungguh sebangun dengan tri hita karana; desa kala patra. Nilai-nilai budaya lokal yang sudah membumi di Bali itu, akan dibawa ke Olimpiada mendatang. Sejauh mana persiapan tim dari Bali itu?

————————————————————

”Kesamaan filosofis itu seperti memudahkan Bali untuk masuk ke dalam inti dialog budaya yang digelar di Athena itu,” ungkap Ngurah Paramartha, ketua Tim Bali untuk delegasi Indonesia dalam Olimpiade Kebudayaan Athena. Ada 20 orang delegasi Indonesia yang akan berangkat ke Olimpiade Kebudayaan pada 8 Agustus 2004 mendatang. Dari jumlah itu, separonya berasal dari Bali yang diwakili oleh Sanggar Maha Bajra Sandhi, fotografer Rama Surya, pelukis Made Budhiana dan Ngurah Paramartha sendiri. Sementara dari luar Bali di antaranya budayawan Muji Sutrisno, Jakarta, perupa Heri Dono dan Tatang Setiadi. Mereka di sana akan berdialog dan memperlihatkan kemampuan dan kreativitas masing-masing.

Jelaslah belum tergambar, berupa apa out-put dialog peradaban di Athena nantinya. Tetapi yang menarik dicermati adalah persiapan-persiapan kultural yang mau dibawa ke sana. Dalam konteks keindonesiaan, wajah yang mau diperlihatkan ialah potensi-potensi local genius dan masih kuatnya power of manual bangsa ini dalam melakoni seluruh kehidupan kebudayaannya.

“Yang hendak kita tawarkan di antaranya adalah kajian kosmologi local genius yang kita miliki, dan penghormatan kita kepada pengetahuan yang tersimpan dengan baik dalam kearifan-kearifan lokal,” ungkap Ngurah Paramartha. Salah satu representasi kultural yang mau diperlihatkan itu ialah penjelajahan artistik spiritual yang diperlihatkan Sanggar Bajra Sandhi. Sanggar yang didirikan sejak 1991 oleh Ida Wayan Oka Granoka di Desa Budakeling, Karangasem ini dengan visi “Prabhaswarajnana” (Perjalanan Menuju Kecermelangan) mencoba menguak dan menawarkan taksu dari kekuatan aksara-jiwa-kesenian dalam satu bangunan utuh kebudayaan Bali. Dan, yang sangat menarik ialah bangunan kebudayaan yang ditawarkan sanggar ini justru bermula dari keluarga.

Ini menyiratkan adanya upaya untuk mengembalikan, atau mungkin semacam pengingatan, bahwa manusia Bali dalam laku kebudayaannya sesungguhnya tak pernah menyekatkan dirinya kepada penyekatan-penyekatan budaya. Dalam bahasa Ngurah Paramartha, manusia Bali ialah pelaku dari seluruh tindak budayanya. “Inilah yang mau kita dialogkan saat peradaban berada pada peregangan yang kuat karena tuntutan profesi,” ujar Ngurah Paramartha.

Menurut pencetus Komunitas Gigir Manuk ini, ada korelasi yang sangat kuat antara Bali dan momentum Olimpiade Kebudayaan di Athena ini. Ia menyebutnya sebagai bertemunya titik-titik puncak kebudayaan. “Mungkin anggapan itu berlebihan, tetapi intinya ada warna-warna yang kuat di mana Bali dan Yunani memiliki kesamaan dalam tingkat intensitas menggumuli kebudayaannya, dan dalam beberapa hal secara konseptual itu nampak,” duga Ngurah Parmartha.

Namun, benar atau tidak, yang terang bahwa Duta Besar Indonesia untuk Yunani ketika mendengar Bali memperkuat kontingen Indonesia, secara khusus mengundang Sanggar Bajra Sandhi untuk pentas di Museum Benaki, Athena, pada acara dinner yang dihadiri 500 orang pencinta dan pelaku seni dan budaya terkemuka di Athena Tetapi, dengan begitu apakah Bali masih dilihat hanya karena kekuatan destinasi turistiknya; dan dari potensi ini wacana lantas hanya berkembang di seputar ranah pelancongan?

Menurut Ngurah Paramartha, dalam konteks momentum kebudayaan global ini, tidak pada tempatnya menghadapkan Bali kepada dikotomi budaya dan pariwisata. Menurutnya, Bali dan kekuatan budayanya adalah realitas yang tak dapat dimungkiri. Pariwisata hanyalah sesuatu yang kemudian ada dari perpaduan Bali dan budaya.

Ia mengatakan, yang perlu dilakukan terutama dalam konteks keterkaitan kita dengan Olimpiade Kebudayaan ini adalah memadukan hasil dari Olimpiade Kebudayaan dengan masa depan Bali dengan segenap potensi yang dimilikinya untuk membawa Bali ke masa depan yang lebih baik.

”Kita sedang memiliki kesempatan ke arah itu, dan karenanya fokus gerakan kebudayaan kita di tingkat global adalah menemukan peluang-peluang, yang dapat dijadikan studi kebudayaan untuk bangsa kita dan dunia,” cetus Ngurah Parmartha.

Memang, Bali tak lagi asing di mata dunia. Tetapi sayangnya, ia hanya populer karena urusan pariwisata. Ada nilai-nilai lokal tetapi sesungguhnya berdaya global yang pantas dipadukan dalam rangka membangun kekukuhan fondasi kemanusiaan di tingkat global sesuai dengan tema Olimpiade Kebudayaan, ”perdamaian dan perekatan sosial”.

Dalam ikhtiar itu, dialog peradaban apa pun tingkat penyelenggaraannya bukanlah tempat untuk memperlihatkan superioritas dan keangkuhan kultural, melainkan mengumpulkan bangunan nilai-nilai dari ruang-ruang terpencil dan mengangkatnya ke permukaan sebagai nilai yang dihormati bersama.

Karena itu, biarkanlah kearifan-kearifan kecil dari Bali dibawa ke Yunani dengan menjunjung logos-cronos-locus (desa kala patra). (win)

>>lihat aslinya

2 thoughts on “Menuju Olimpiade Kebudayaan Yunani 2004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *