Juni 6, 2020

Pendidikan Kesetaraan Masih Dipandang Sebelah Mata

Cianjur, Pelita
Disaat-saat pemerintah terus menggalakkan pendidikan kesetaraan, memang masih ada beberapa pihak yang memandang dengan sebelah mata terhadap pendidikan kesetaraan, yang pada umumnya diikuti oleh warga masyarakat yang kurang mampu.
Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peserta warga belajar di berbagai tingkatan program diantaranya dilaksanakan Lomba Peserta Didik Pendidikan Kesataraan Tingkat Nasional (LPDPKTN), kata Drs Himam Haris, MPd, Kasubdin PLSP (Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) pada Dinas P dan K Kabupaten Cianjur, Jabar, yang juga Ketua Panitia Lokal LPDPKTN di Cisarua Bogor kepada Pelita, Selasa (29/1/2009).
Menurutnya, warga belajar di lingkungan pendidikan non formal memiliki kekhasan tersendiri, karena tidak dibatasi usia. Malahan untuk Program Paket A yang setara dengan sekolah dasar (SD), ada yang memiliki siswa yang masih berumur lima tahun dan yang tertua berumur 72 tahun.

LPDPKTN yang dibuka oleh Dr Ella Yulaelawati Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas itu, berlangsung cukup semarak diikuti oleh 250 peserta berusia delapan s/d 17 tahun peserta pendidikan kesetaraan Program Paket A, B, dan C dari enam provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Kalimantan Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Jawa Barat, sebagai tuan rumah.
Kegiatan LPDPKTN yang dilaksanakan baru kali pertama ini, diwarnai pula dengan pagelaran seni tari Puspajanti dari Yayasan Kecantikan Agung Denpasar, Bali dan Seni Cianjuran dari Sanggar Perceka Cianjur pimpinan Tatang S. LPDPKTN, sekaligus dijadikan ajang pertemuan para tutor pengelola PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).
Dalam LPDPKTN yang berlangsung sehari itu, menggelar tes tertulis mata pelajaran Matematika, dan bahasa Indonesia, dan berbeda pula dengan tes yang biasa digelar di lingkungan pendidikan formal. Penampilan mereka pun sangat berbeda, yaitu mengenakan baju bebas, dan banyak yang menggunakan sandal jepit seperti peserta dari PKBM Bina Mandiri, Tebet, Jakarta Selatan.
Mereka yang menjadi juara, kata Himam Haris, masih didominasi peserta dari DKI Jakarta dan Jawa Barat, masing-masing juara I Program Paket A, diraih Oktanas AR dari PKBM Bina Insani Mandiri, Depok, Jabar, juara I Program Paket B, Yunita Manurung dari Kalimantan Selatan, Juara I Program Paket C, Bastian Agus dari LPMD Widyatama, Sukabumi.
Para juara menerima hadiah uang pembinaan mulai dari Rp6,5 juta untuk para juara I, sedangkan para juara harapan 1 s/d III masing-masing memperoleh uang pembinaan Rp2,5 juta.
Salah seorang pengelola PKBM Paket A dan B dari Kampung Sukasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikadu, Cianjur Selatan, berharap lomba seperti itu, dipersering dengan tempat di kota besar untuk menambah wawasan siswa warga belajar.(man)

2 thoughts on “Pendidikan Kesetaraan Masih Dipandang Sebelah Mata

  1. kami senang mengetahui ada beberapa PKBM yagn telah mempunyai web / blog sendiri, sehingga kami bisa belajar dari mereka. Kami sendiri baru pada tahap coba – coba bikin blog sendiri, tapi masih kesulitan untuk menerbitkan di search engine google. Mungkin PAC bisa membantu? Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *