Juni 4, 2020

Pelangi Indonesia ke Athena

Sabtu, 07 Agustus 2004

JAKARTA- Setelah melewati proses kuratorial yang maraton dan mendalam, akhirnya 21 delegasi Pelangi Indonesia yang terdiri atas seniman, budayawan, kurator, dan pengelola pertunjukan akan berangkat ke Athena dalam rangka Cultural Olympiad 2004.

Kegiatan olimpiade kebudayaan yang berbarengan dengan Olympic Games Athena 2004 ini diikhtiarkan sebagai ajang untuk menggagas dialog antarbudaya dan pentas kreativitas dengan semangat perdamaian dan kerekatan sosial.

”Olimpiade kali ini merupakan momentum penting untuk memulai dialog antarperadaban di tengah-tengah kegamangan politik internasional dan ancaman terorisme,” terang Taufik Rahzen, Ketua Dewan Kurator Olimpiade Kebudayaan di TIM Jakarta, Kamis (5/8) petang.

Bersama budayawan Romo Mudji Sutrisno, Garin Nugroho, Ary Sutedja, Sujiwo Tedjo, Nirwan Arsuka, dan Edward Hutabarat, Rahzen sebagai ketua kurator Komite Nasional Indonesia untuk Olimpiade Kebudayaan (KNIOK) akan bertolak bersama ke Athena pada Minggu (8/8) besok.

Dan untuk delegasi kali ini, Indonesia akan diwakili oleh grup pertunjukan dan seniman individual yang dibingkai dan dipengaruhi oleh tradisi wayang. ”Pilihan wayang sebagai titik tolak bukan saja karena kesenian ini telah diakui sebagai Masterpiece of World Heritage oleh UNESCO. Tapi juga karena wayang Yunani atau biasa dikenal dengan Karagiosis ternyata dipengaruhi wayang Jawa yang diperkenalkan pedagang Arab Turki pada abad ke-14,” terang Mudji Sutrisno.

Selain wayang, Sanggar Seni Maha Bajra Sandhi dari Denpasar pimpinan Wayan Oka Granoka juga akan menampilkan serangkaian pertunjukan dari tradisi klasik melalui Yoga musik.

”Mereka akan menampilkan Wayang Beber Sliksajati oleh dalang cilik Ida Made Adnya Gentorang (12) yang akan melakonkan Sutasoma karya Mpu Tantular. Pertunjukan ini merupakan penjelahan aksara dan visual atas teks abad ke-14 yang melahirkan prinsip Bhineka Tunggal Ika,” kata Edward Hutabarat.

~Instalasi Multimedia~

Sedangkan perupa konptemporer Heri Dono akan menyuguhkan karya instalasi multimedia Trojan Horse. Sebuah kreasi yang terinpirisai dari peristiwa 11 September.

”Saya akan memparalelkan kisah Kuda Troya oleh Homer dengan kisah pembebasan Sinta oleh Rama pada kisah Ramayana,” terang Heri Dono.

Baik Bajra Sandhi dan Trojan Horse (kuda troya) akan ditampilkan di Museum Benaki Athena, Ampitheater Olympia dan Indonesian Caravan.

Dan untuk mengelilingkan berbagai kesenian Indonesia di Yunani, kontingen Indonesia akan menggunakan Indonesian Caravan. Sebuah bus pertunjukan (stage bus) yang akan berkeliling dari kota Naplion, Patra, Pireaus, Pylos, Argos, Thesaloniki, dan Creta.

”Beberapa musisi Indonesia seperti pianis Ari Sutedja-Davis, Trisutji Kamal, violis Luluk Purwanto dan Helsedingen trionya, dalang Nanang Hape, Tatang Setiadi, dan teaterawan Sari Majid akan turut di bus tersebut,” Kata Rahzen. Bersamaan dengan perjalanan itu juga akan diputar film-film keragaman anak-anak Indonesia terbaru karya Garin Nugroho serta sebuah film anyarnya, trilogi politik yang mengambil tema pertunjukan wayang orang. (G20-81)

>> lihat aslinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *