Agustus 5, 2020

Napas Wayang Kembali Ditiupkan Indonesia di Olimpiade Yunani

Jakarta, Sinar Harapan
Olimpiade Kebudayaan di Athena (Cultural Olympiad Athena) 2004 kembali berlangsung dengan menyajikan berbagai karya budaya Indonesia mulai dari lukisan, sastra, tari juga dimensi seni lainnya. Untuk tahun ini, akan diikutsertakan dalam acara olimpiade kali ini Kelompok Maha Bajra Sandhi dan karya pelukis tunggal Heri Dono di Museum Benaki Athena dan amfiteater Olympia. Keduanya, juga akan menyajikan Indonesia Caravan dengan beberapa seniman yang mengisi acara momen Jakart Foundation di 16 kota di Indonesia.
Olimpiade Athena 2004 diadakan bersamaan dengan Olympic Games Athena 2004 dan diselenggarakan di tempat awal Olimpiade Modern Athena pada tahun 1896. Dalam momen kali ini, semangat Olimpia 667 SM sebagai ritus budaya pun diteguhkan untuk menjalankan acara olimpiade kali ini.

Indonesia, di ajang itu, akan menyajikan sajian karya seni Kelompok Maha Bajra Sandhi dari Denpasar pimpinan Ida Wayan Oka Granoka berupa serangkaian pertunjukan tari klasiknya, akan mengisi pertunjukan tradisi dengan semacam ”yoga musik”, dengan sajian dari Ida Made Adnya Gentorang (12) yang melakonkan Sutasoma karya Mpu Tantular.
Kelompok itu, memang diisi oleh keluarga inti – bapak, ibu dan anak – dengan eksperimen radikalnya yang merevitalisasi aksara yang arkais dalam kehidupan sehari-hari. Rekaman dalam bentuk sketsa dilakukan oleh perupa kontemporer Bali Made Budhiana (42), dengan manajer pertunjukan Ngurah Paramartha dan untuk presentasi artistik pertunjukan dan penampilan delegasi senimannya adalah Edward Hutabarat.
Untuk seni rupa, diisi oleh perupa kontemporer Heri Dono yang membawakan karya instalasi multimedia dengan judul ”Trojan Horse” (2001) yang terinspirasi oleh peristiwa 11 September. Dengan penempatan medianya di Yunani, jelas makna akan bias sesuai dengan penikmat di sana. Antara media, teknologi, pembebasan dan kekacauan. Apalagi ketika karya ini membongkar ulang kisah Kuda Troya (oleh Homer), dengan pembebasan Shinta oleh Rama dalam kisah Ramayana.
Format pertunjukan kali ini, menurut Komite Nasional Indonesia untuk Olimpiade Kebudayaan) Taufik Rahzen dalam jumpa persnya di Café Venizia Jl. Cikini Raya Jakarta (5/8), lebih diisi oleh grup pertunjukan maupun seniman individual dengan bingkai pemikiran yang dipengaruhi oleh tradisi wayang. Selain dipilih sebagai Masterpiece World Heritage oleh Unesco, pilihan tema ataupun konsep wayang dijadikan pertimbangan di acara ini adalah karena wayang juga ada di Yunani (dengan sebutan Karagiosis) yang dipengaruhi oleh wayang Jawa, diperkenalkan pertama kali oleh pedagang Arab Turki (14 Masehi).

”Land Under The Rainbow”
Selain di atas, beberapa seniman lain juga disertakan di Indonesian Caravan yang berupa bus pertunjukan mengelilingi kota-kota di Yunani mulai Naplion, Patra, Pireaus, Pylos, Argos, Thesalonika dan Creta. Senimannya antara lain pianis Trisutji Kamal, Ari Sutedja-David, violis Luluk Purwanto dengan Helsedingen-trio, dalang Nanang Hape, teaterawan Sari Majid dan pemusik Tatang Setiadi dan film Garin Nugroho yang akan diputar sepanjang momen itu. Seniman ini juga yang mengisi acara dalam momen Jakart Foundation pada 16 kota di Indonesia.
Tema yang diusung untuk Indonesia Caravan ini adalah Indonesia: Land Under The Rainbow, buku karya Mochtar Lubis yang berisi sejarah Indonesia dari pandangan lokal, buku pertama di bidang jurnalistik yang cemerlang namun tak mendapatkan perhatian sampai menarik perhatian kalangan luar negeri dan diterbitkan dalam edisi bahasa asing. Pada momen itu juga, Mudji Sutrisno akan menyosialisasikan dan mempresentasikannya ke berbagai komunitas seni dan intelektual di tiap kota di Yunani. (srs)

>> lihat aslinya

lihat agenda terkait>>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *