November 1, 2020

Festival Seni Sambut Ramadhan

Menjadi Alat Perekat Pesantren dan Masyarakat

Cirebon, Kompas – Menyambut Ramadhan, sejumlah pesantren di Cirebon dan Majalengka menggelar festival seni dan budaya. Festival itu juga menjadi ajang tutup tahun ajaran, peringatan ulang tahun pesantren, dan alat perekat masyarakat dengan komunitas pesantren.

Di Pondok Pesantren Al-Mizan di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, festival budaya bertema “Ruwatan Negeri dengan Spirit Para Wali” berlangsung sejak Selasa (11/9) pagi hingga malam.

Meskipun di lingkup pesantren, kesenian yang dipentaskan bukan hanya dari pesantren, melainkan juga kesenian tradisional Sunda. Dalam acara itu dipertunjukkan kecapi santri oleh Tari Pinasti dari sanggar tari Perceka Cianjur, rajah arwah oleh Abah Iwan Ompong, sintren sanggar bambu dari Bongas (Majalengka) yang ditarikan para santri perempuan, serta rampak topeng dan wayang bodor.

Pada malam harinya, sekitar 10.00 jemaah sewilayah III Cirebon yang terdiri dari anggota paguyuban shalawat nariyah Keraton Kasepuhan dan para kiai dari pesantren lain mengadakan dzikir bersama, pembacaan nasyid Ramadhan, serta doa untuk keselamatan bangsa. Para santri pasaran, yakni santri yang khusus belajar di bulan Ramadan, pun melakukan tradisi pasaran.

Keramaian festival juga sempat mewarnai Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Sabtu pekan lalu. Di pesantren ini berbagai kesenian pesantren dan kesenian rakyat, seperti gambus, topeng yang ditarikan maestro tari Wangi Indria, dan genjring, ikut memeriahkan festival tersebut. Perekat masyarakat

KH Maman Imanulhaq, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Kamis, mengatakan, festival di pesantrennya yang bertajuk “Ruwatan Negeri dengan Spirit Para Wali” merupakan bentuk kepedulian pesantren terhadap berbagai bencana yang menimpa bangsa. Ini juga merupakan ajakan untuk rendah hati dan mencoba mencari solusi atas kesulitan bangsa.

Pesantren Al-Mizan juga ingin merekatkan hubungannya dengan masyarakat lewat kesenian. Festival itu salah satunya ditujukan untuk mempertemukan gagasan atau ide yang datang dari sisi budaya dan agama. Mengenai media kesenian yang dipakainya untuk merekatkan pesantren dengan masyarakat, Maman mengakui masih ada pro dan kontra.

Bagi Maman, kesenian adalah bagian dari kehidupan. Ia mempunyai argumen sendiri dalam membawa gamelan dan alat musik tradisional ke pesantrennya saat pesantren lain masih memberlakukan larangan memainkan alat musik itu di area mereka. “Itu tergantung penggunaannya. Saya memilih apa yang dilakukan Jalaludin Rumi, bahwa ‘banyak jalan menuju Tuhan dan aku memilih lewat menyanyi dan menari’,” katanya.

Media kesenian dinilai efektif untuk merekatkan kembali hubungan antara pesantren dan masyarakat di sekitarnya, yang dalam kenyataannya memang tidak terlalu akrab, bahkan saling menjauh.

Dekotomisasi budaya dan pesantren juga diungkapkan KH Habib Abubakar Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Dalam festival budaya yang digelar di pesantrennya Sabtu pekan lalu, Abubakar pun menyatakan bahwa komunitas pesantren mempunyai kesamaan dengan masyarakat kecil di sekelilingnya, yakni tumbuh di tempat yang sama (pinggiran).

Dengan festival itu, Pesantren Babakan ingin menunjukkan bahwa ada ruang dialog dan komunikasi antara pesantren dan budaya.

Bisri Effendi, peneliti dari Desantara Institute of Cultural Studies, yang ikut terlibat dalam festival budaya itu, berharap pesantren jangan sampai tercerabut dari akarnya.

Jika pesantren dan masyarakat sekitar sudah bisa berjalan bersama, tidak tertutup kemungkinan berbagai persoalan akan mendapatkan solusi yang lebih baik. (NIT)

>> lihat aslinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *